Rabu, Agustus 31, 2011

Mensikapi TAKDIR

Sahabats,
Membicarakan tentang takdir akan menjadikan kita mengerti tentang rahasia besar dalam kehidupan ini. Namun demikian, untuk sempurnanya penyikapan kita terhadap takdir, yang terdiri dari qodho/ketetapan Allah dan pengkadarannya/qodar fenomena kehidupan ini juga memerlukan prasyarat yang hendaknya kita penuhi.

Ketetapan (qodho’) dan pengkadaran (qodar)-Nya dalam kehidupan kita akan menghasilkan peristiwa-peristiwa yang menyenangkan atau menyusahkan dalam kehidupan kita. Penyikapan kita terhadapnya, membedakan kualitas pengenalan kita kepada Allah Sang Penentu Qodho dan Qodar tersebut.
Kita (saya, lebih tepatnya), karena kurang mengenal Allah sang Penentu Qodho dan Qodar makhluk, pada umumnya akan terlalu asyik dengan akibat langsung dari fenomena kehidupan, sehingga sedih dan senangnya menerima takdir hidup kita menentukan kualitas respons kita terhadap Allah sang Penentu takdir tersebut, jika senang kita taat, namun jika sengsara kita tidak taat kepada-Nya, atau sebaliknya.

Namun, sungguh berbeda dengan kaum shalihin, syuhada dan shiddiqin yang telah sempurna mengenal Allah. Mereka tetap bersemangat taat kepada Allah SWT tanpa terpengaruh qodho dan qodar apa pun terhadap diri-Nya. Ketika senang takdirnya, beliau-beliau ini mensyukuri hal itu karena merasa dianugrahi cicipan kenikmatan surgawi, meskipun mereka masih di dunia. Sedang saat takdirnya adalah sesuatu yang menyengsarakan ragawinya, beliau-beliau ini tetap taat dan ridho kepada-Nya, karena mereka tahu bahwa semua ketetapan takdir Allah adalah demi meningkatkan kapasitas diri mereka. Jadi, saat takdirnya senang mereka bersyukur, demikian pula ketika takdirnya sengsara merekapun tetap bersyukur kepada Allah SWT.
Pengenalan yang sempurna mereka terhadap Allah, membuat mereka bisa membedakan akibat takdir dalam kehidupan kita, dengan Dia Yang menentukan takdir tersebut. Takdir hanyalah sarana-Nya untuk meningkatkan kapasitas iman dan ketakwaan kita para ciptaan-Nya. Orang yang mengenal Allah, tidak akan terkecoh dengan jenis takdir dirinya -apakah baik atau pun buruk-, tetapi pandangannya tetap berfokus pada Sikap Allah terhadap dirinya, yang dalam hal ini, senantiasa mendahulukan Rahmat-Nya dari pada Murka-Nya.

Memang untuk dapat mengimani takdir ini dengan sempurna, kita perlu senantiasa meningkatkan keimanan kita kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul-Nya serta Hari Akhir/Akhirat.
Dengan iman yang benar terhadap Allah kita akan mengenal bahwa keridhoan-Nya terhadap penyikapan kita terhadap takdir kita, adalah lebih penting dari pada isi takdir itu sendiri.
Dengan keimanan yang kuat terhadap para Malaikat Allah, kita bisa mengetahui bahwa dalam menjalankan skenario takdir para makhluk-Nya, Allah menggunakan peran para Malaikat-Nya sebagai penyempurna skenario-Nya.

Dengan keimanan yang sempurna terhadap Kitab-kitab Allah, kita mengetahui pedoman dan petunjuk tentang bagaimana seharusnya kita mensikapi takdir kita.
Dengan keimanan yang kokoh terhadap Rasul-rasul Allah, kita memperoleh suri teladan tentang hamba-hamba-Nya yang benar dalam menyikapi takdirnya.
Dan dengan keimanan paripurna terhadap Akhirat, kita mengetahui bahwa semua penyikapan kita terhadap takdir pasti akan memperoleh balasan yang setimpal sesuai dengan Keadilan-Nya sebagai Hakim yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Nah, sahabats..
Sekarang semuanya terpulang kepada kita sendiri, apakah di sisa umur kita di dunia ini akan kita gunakan untuk menyempurnakan penyikapan kita terhadap takdir kita dengan sebaik-baiknya, atau kita sia-siakan begitu saja dengan kita mengikuti hawanafsu dan keterikatan duniawi? Wallahu a’lam bishshawwab.
Laa haula wa laa quwwata illa billahiil Aliyyul Adhim.

Rabu, Agustus 31, 2011 by Mas Javas · 1

Senin, Agustus 29, 2011

Pengacara Cantik Nazarudin Ngetop

Nama Dea Tunggaesti, pengacara kelahiran Solo, 26 September 1982, melejit ke angkasa. Wajahnya mendadak sering muncul di layar televisi. Penampilannya ramai diperbincangkan di media sosial.
Maklum saja, selain kejelitaannya, mantan model dan bintang film ini sedang ditugasi bosnya, pengacara kawakan OC Kaligis, untuk mendampingi klien kakap yang sedang menggegerkan jagat politik Republik: mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, yang kini sedang dijerat berbagai kasus korupsi kakap.

Untuk mengenalnya lebih dekat, berikut saya tampilkan wartawan VIVAnews.com  secara khusus di Wisma Nusantara, Jakarta, Kamis malam, 25 Agustus 2011. Berikut petikan perbincangan dengannya, didampingi sang suami, Neviu Parodi, seorang warga negara Italia.

Anda sejak awal memang bercita-cita jadi pengacara?
Dulu saya pernah bercita-cita jadi pramugari. Ingin jadi sekretaris juga pernah. Tapi akhirnya saya benar-benar tertarik ingin jadi pengacara.

Karena pengaruh ibu Anda yang juga seorang pengacara?
Mungkin iya. Ayah saya wiraswasta, ibu saya seorang in house lawyer. Kebetulan orang tua saya bercerai. Saya tinggal dengan ibu saya dan adik. Jadi, tiap malam di perbincangan keluarga, ibu saya yang jadi penasehat kami. Dia memang sering bicara soal hukum.
Sekarang masih sering minta nasehat Ibu soal hukum?
Masih. Saya sering berkonsultasi dan dia banyak kasih masukan, karena baru pertama kali ini saya banyak bicara di media. Dia menasehati cara bicaranya harus begini, jangan bicara soal politik, bicara soal hukum saja. Dia wanti-wanti saya jangan mau digiring ke arah sana.
Punya kesibukan selain pengacara? 
Anak saya masih kecil. Yang satu 3 tahun, yang satu 1 tahun. Jadi, kegiatannya ya ajak anak-anak berenang, mereka lagi senang-senangnya berenang. Terus, mungkin ke mal yang ada tempat main untuk anak-anak. Saya juga senang sekali masak, juga menonton film serial, tentunya yang berbau hukum.
Anda juga masih kuliah, bukan?
Saya sedang kuliah S3 hukum lagi di Universitas Padjajaran. Kuliah sudah selesai, tinggal menulis thesis. Saya mengambil hukum pidana.

Kabarnya Anda pernah main film.
Ya, film layar lebar. Saya pernah main di "30 Hari Mencari Cinta", jadi temannya si Luna itu. Juga, video klip Sheila on 7 "Pejantan Tangguh", lalu Kahitna. Saya jadi artis waktu saya kuliah, ketika ada waktu senggang. Lebih banyak jadi model iklan, sih: softener So Klin. Wah, seneng banget waktu dapat job itu. Setelah itu, juga spaghetti La Fonte, Kacang Garuda, dan Softex.

Kenapa berhenti?
Saya menikah tahun 2004. Habis menikah saya di luar Jakarta, jadi agak malas juga. Selain itu, artis kan mengandalkan imajinasi. Saya kira saya tidak punya bakat untuk itu. Saya tidak bisa.
Bagaimana bisa bergabung dengan firma OC Kaligis?
Saya pertama ketemu Pak Kaligis pada tahun 2007. Saya datang ke Beliau dengan mengirim aplikasi, setelah lulus S2 di Program MM UGM di Gondangdia, Jakarta. Saya melihat Beliau seorang pengacara besar. Maka, saya memberanikan diri untuk datang. Saya mulai bekerja di kantor Pak OC sejak tahun 2007.

Kenapa melamar ke OC Kaligis?
Pak OC itu sebenarnya masih saudara jauh dengan suami saya. Jadi, mama suami saya itu masih sepupu jauh Manado sama Pak OC. Saya kenal Beliau sudah lama, sejak kuliah. Beliau sering mengajar sebagai dosen tamu. Tapi karena saya pacaran sama suami saya sekarang, akhirnya ketemu lagi.
Anda ditunjuk langsung oleh OC Kaligis untuk mendampingi Nazaruddin?
Ya, saya ditunjuk Pak OC. Beliau biasanya menunjuk beberapa orang untuk memegang satu perkara. Sebenarnya, saya sudah ditunjuk memegang kasus ini sejak Juni, sebelum kasus ini heboh. Sejak Juni 2011, Pak OC sudah punya kuasa dari Pak Nazar untuk menjadi pengacaranya. Di situ, Beliau mencantumkan beberapa nama supaya juga dimasukkan di surat kuasa. Di setiap kasus, sejak awal selalu Pak OC yang menunjuk sendiri siapa anggota timnya.

Anda punya kemampaun pidana lebih sehingga ditunjuk mendampingi Nazar?
Tidak, sih. Pak OC pasti kasih kesempatan ke setiap orang. Di kantor Pak OC ada 70 pengacara. Sebenarnya, tim Nazaruddin ada sembilan orang, empat pengacara senior. Mereka yang senior, termasuk Pak OC, hanya supervisi saja.
Kenapa Anda tidak memilih jalur perdata saja?
Dunia pidana terkenal lebih keras, jadi lebih menantang buat saya. Lebih fun. Di kantor saya, setiap pengacara dikasih kesempatan untuk mencoba semua. Saya pernah diminta bekerja di bagian pendapat hukum, dan itu bekerja di kantor saja. Saya merasa kurang fun. Saya lebih suka keluar kantor, ketemu banyak orang. Rasanya lebih cocok dengan jiwa saya. Kalau di kantor hanya ngetik-ngetik, saya bosan ... hahaha.
Kenapa yang sering tampil di media hanya Anda dan Boy Afrian Bondjol?
Mungkin karena perkara ini diliput media secara luas, jadi Pak OC memberikan tugas khusus kepada Pak Boy dan saya untuk bicara.

Tugas ini sulit?
Saya tidak menyangka dikasih tugas ini. Saya tidak menyangka kasus ini akan menjadi besar, tiba-tiba menjadi begini. Saya harus bekerja ekstra, karena selain soal menyiapkan pembelaan dan paper work, saya juga harus meng-counter pendapat publik yang menyudutkan dan tidak sesuai dengan fakta. Sebagai kuasa hukum, saya harus memberikan keterangan ke media.

Keluarga mendukung Anda menangani kasus Nazaruddin?
Ya, pasti ada dukungan. Ada yang menasehati, 'Hati-hati, kasus ini nuansa politiknya tinggi.' Tapi, tidak sampai menentang. Tidak. Mereka memberi nasehat.
Setelah jadi terkenal, Anda mestinya sering disapa orang.
Ya, ada saja yang bertanya, 'Mbak, Pak Nazar apa kabar?' Saya bilang, 'Baik, nanti saya sampaikan salamnya.'

Senin, Agustus 29, 2011 by Mas Javas · 0

Pesan Anak Nazarudin Kepada SBY

Saya adalah Fatiruhddin, anak dari Nazaruddin. Saya minta kepada Pak SBY, tolong jangan apa-apakan ibu-bapak saya, mereka tidak bersalah, mereka tidak tahu apa-apa. Kalau enggak percaya, tanya sama Oom Anas Urbaningrum, pasti dia lebih tahu, karena dia ikutan. Kalau mau jelas lagi, tanya tuh sama Tante Anggaran Angelina Sondakh, pasti dia lebih tahu lagi."
"Dari penjelasan mereka berdua, Oom SBY lebih ngerti, kalau bapak saya bekerja keras untuk mengumpulkan uang buat partai. Jadi, tolong dong Oom, jangan apa-apakan ibu-bapak saya. Kan, mereka sudah berjanji, untuk berpura-pura lupa dan menjaga nama baik partai......"

Inilah sederetan kata-kata yang terucap dari mulut kecil anak usia 10 tahun yang mengaku anak Nazaruddin. Murni, sebuah parodi sequel Nazaruddin.

Kita tidak perlu terjebak dalam mencari kebenaran apakah anak tersebut anak Nazar atau bukan. Ada sebuah pesan terselubung. Pesan adanya upaya membuka mata masyarakat bahwa ada dugaan upaya pembungkaman terhadap Nazaruddin.

Anak ini mewakili jutaan masyarakat yang memiliki keinginan untuk membuka permasalahan yang menyangkut "Nazaruddin Gate" ini. Masyarakat yang cerdas dan memiliki naluri bagaimana "bila saya menjadi" petinggi yang terlibat dalam kasus ini. Inilah dugaannya. Bungkam atau keluarga Nazaruddin terancam keselamatannya.

Raut wajah dan keresahan itu terpancar jelas di wajah Nazaruddin. Sama seperti kita mendengar kata-kata Soetan Bhutagana yang keukeuh mengaku tidak berbohong padahal raut wajahnya menunjukkan seorang pendusta. Sama seperti wajah SBY yang dulu terlihat santun dan berseri karena memang memiliki itikad baik terhadap negara dan bangsa ini. Sama pula dengan raut wajah SBY yang kini lebih penuh kerut kemeriut karena sulitnya menjadi seorang pemimpin pada sebuah organisasi yang berisi para politisi mentah dan kacangan.

Yang terpenting : Lihat Substansinya...

dalam Situs youtube.com menampilkan seorang bocah sekitar lima tahunan yang mengaku anak perkawinan Muhammad Nazaruddin dan Neneng Sri Wahyuni. Nama bocah itu Fatirudin.


Dia menuding Ketua Umum DPP Demokrat, Anas Urbaningrum, dan anggota fraksi Demokrat di DPR, Angelina Sondakh, mengetahui bahwa Nazaruddin sibuk mencari uang untuk menggerakkan mesin Partai Demokrat.

"Keduanya tahu ayah saya bekerja untuk itu," ungkap bocah tersebut yang mengenakan topi mirip dengan topi jerami yang digunakan Nazaruddin ketika berkomunikasi via skype dengan jurnalis independen, Indra J Piliang, beberapa waktu lalu.

"Merdeka," ungkap anak kecil itu dalam video yang diiringi lagu kebangsaan Satu Nusa Satu Bangsa.
Tidak main-main, bocah ini meminta kepada Presiden SBY untuk membebaskan ayah dan ibunya. "Mereka jangan diapa-apakan," pintanya. Dia meminta agar SBY meminta penjelasan dari Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh terkait kasus-kasus yang kini menjerat Nazaruddin.

Dia menilai Nazaruddin sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk menggerakkan Demokrat. "Tolong dong om, jangan apa-apakan bapak dan ibu saya. Kan mereka sudah berjanji akan pura-pura lupa dan menjaga nama baik partai," ungkapnya.

Bocah tersebut berwajah bulat, hidung lebar, kulit putih, tinggi sekitar satu meter, dan berambut pendek. Dalam video itu, dia memakai kaos biru dan bertopi krem.

Dalam adegan lain, tampak Fatirudin berlari kecil dikawal wanita dengan tinggi lebih dari 160 sentimeter berpakaian belang-belang hitam putih, berkulit putih, berambut hitam sebahu. Tidak diketahui apakah itu Neneng, istri Nazarudin, atau bukan.

Saat berlari, Fatir memakai baju kuning bergambar kartun, bersepatu dan bertopi krem. Tampak dia berlari-lari keluar dari kamar mirip hotel atau apartemen menuju lift.

Video tersebut berjudul ''Himbauan Fatihruddin (Anak Nazaruddin) kepada SBY (HQ)''. Pengunduh video berudurasi tiga menit itu bernama Sineascairo. Sudah 92 kali video tersebut dilihat. Video tersebut diunggah sejak 25 agustus 2011.

by Mas Javas · 0

Jumat, Agustus 26, 2011

ARTI SEBUAH KEBAIKAN

Janganlah anda pernah sungkan untuk berbuat baik, karena suatu kebaikan yang sepele dapat membawa kebahagiaan. Hal ini dapat kita simak dalam kisah Dr. Howard Kelly.

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa sekeping uang, dan ia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.


Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?” Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu membayar apapun”. “Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan” kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata : “Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.”

Belasan tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut.

Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan. Wanita itu sembuh! Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatuannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut.

Ia membaca tulisan yang berbunyi, “Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu..” (Tertanda), Dr. Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia

Jumat, Agustus 26, 2011 by Mas Javas · 0

DASAR SETAN....!!!

Assalamualaikum.Wr.Wb

Seringkali kita menyalahkan setan sebagi biang kerok dari segala dosa yang kita perbuat. Padahal kalau kita lihat dalam Al-Quran, setan itu hanya bisa mengajak pada perbuatan dosa. Setan dan Iblis tidak bisa memaksa berbuat dosa.

Setan hanya mengajak dan memprovokatori manusia untuk berbuat dosa.Manusia mempunyai hak memlilih untuk melakukan perbuatan dosa atau tidak.
Dalam Kitab Suci Alqur’an Surat Ibrahim ayat 22 :
Berkata Syaithan “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan padamu janji yang benar,dan akupun telah menjanjikan kepadamu,tetpi akau menyalahinya.Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu (manusia),melainkan (sekedar) aku menyeru kamu,lalu kamu mematuhi seruanku,, Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali kali tidak dapat menolongmu,dan engkaupun tidak dapat menolongku.Sesungguhnya aku tidak membenarkan  perbuatanmu mempersekutukanku (dengan Allah) sejak dahulu.Sesungguhnya orang yang zalim itu mendapat siksaaan yang pedih.

Jadi jelaslah kita tidak dapat menyalahkan setan. Apalagi memintanya bertanggung jawab atas dosa yang kita perbuat. Kita mengantuk waktu mengaji, setan kita salahkan.Kita berbuat maksiat, setan pula kita salahkan. Padahal jelas dalam ayat di atas, setan hanya bisa menghimbau dan menyeru, tidak bisa memaksa, apalagi secara fisik menarik tangan kita untuk memegang wanita yang bukan muhrim, atau menarik bibir kita untuk mencium perempuan yang disukai. Tapi kalau sudah kejadian maksiat terjadi, biasanya kita ngomong “Dasar Setan..!!!”...

Padahal setan Cuma menjalankan sumpahnya dan menjalankan perannya sebagai bentuk kekecewaaannya di usir dari surga.Inilah yang perlu kita waspadai, dendam Iblis begitu besar kepada  manusia. Dia diusir dari surga karena kesombongannya, karena itu iblis berusaha  menularkan penyakit congkak dan sombong ini kepada manusia, untuk menyeret manusia bersama dengannya ke Neraka. Kesombongan iblis terhadap Adam adalah kesombongan yang disebabkan oleh nasab (asal muasal). Dan kemudian kesombongan itu menyeretnya kepada kesombongan terhadap perintah Allah swt. Jadi kalau ada manusia yang merasa  bangga  dan sombong karena nasab (asal muasalnya), misalnya turunan raja, keraton, atau turunan kyai, maka manusia ini sudah jadi murid iblis.

Dan para orang yang banyak ilmu, orang yang ditokohkan, orang yang banyak nasehat bukanlah orang yang dikecualikan. Kalau manusia sudah tertulari penyakit ini, tak peduli apapun profesinya dan pekerjaannya, setinggi apapun ilmunya, sebanyak apapun amal kebajikannya, dia akan menganggap dirinya sebagai yang paling baik dan menganggap pihak yang berbeda dengannya tidak bernilai bahkan sebagai musuh.Orang seperti ini sudah susah dinasehati, merasa benar sendiri. Seolah Surga hanya miliknya sendiri.
Jadi kuncinya sebenarnya adalah perkuat benteng iman dari himbauan dan provokasi setan iblis laknat jahanam ini, bukan hanya bisa menyalahkan, tapi tidak menambah tebal benteng iman dengan banyak mengaji, mengamal, membela, mendatangi pengajian, dan meningkatkan Taqwa kita pada Allah dan RasulNya.

Ada baiknya kita berpegang pada suatu kaidah ini. Apabila kita berpihak pada sesuatu, maka mesti ada pihak yang dikorbankan. Kalau kita berpihak pada jalan Allah, maka setan korbannya karena seruannya gagal.Kalau kita berpihak pada seruan Setan, maka Allah korbannya. Tinggal kita memlih ,mengorbankan Setan atau mengorbankan Allah.

Wassalamu alikum Wr.Wb

by Mas Javas · 0

Kamis, Agustus 25, 2011

Asal Usul Halal Bihalal ( Tradisi Indonesia )


Ada kisah menarik yang disampaikan Ketua MUI, Umar Shihab, mengenai asal-usul halal bi halal yang menjadi tradisi di Indonesia. Menurutnya, tradisi yang baik ini pertama kali dikenal pada 1963, saat Buya Hamka bertemu dengan Presiden Soekarno di Istana Negara dalam suasana Idul Fitri.
“Pada saat keduanya berjabat tangan, Buya Hamka mengatakan kita halal bi halal, dan Bung Karno mengatakan juga dengan keras halal bi halal. Lalu tahun-tahun berikutnya Bung Karno yang mempopulerkannya,” ungkap Umar Shihab dalam acara halal bi halal 1431 H LDII di Sekretariat DPP LDII Jakarta.

Menurutnya, dalam sebuah wawancara Buya Hamka pernah mengatakan bahwa makna halal bi halal adalah bertemunya pribadi-pribadi yang suci yang telah serius menggembleng dirinya dalam bulan Ramadhan. “Halal itu suci, bersih, baik. Halal bi halal adalah upaya mempertemukan pribadi-pribadi yang baik yang telah sungguh-sungguh menjalankan ibadah Ramadhan, begitu keterangan Buya,” kata Umar yang saudara kandung mantan Menag Prof Dr Quraish Shihab tersebut.

Dalam bahasa agama, halal bi halal sepadan dengan silaturahim. Umar mengatakan bahwa adalah orang yang merugi bila enggan menyambung bahkan memutuskan sialturahim. Dalam kesempatan yang sama Katib Aam PBNU, KH Dr Malik Madani, mengatakan bahwa halal bi halal adalah local wisdom, yang perlu dipelihara keberlangsungannya, dalam upaya untuk mempertahankan ukhuwah Islamiyah.  “Yaitu persaudaraan yang Islami. Hal ini tidak terbatas dengan sesama muslim saja. Tapi bisa dengan pemeluk agama lain dengan spirit nilai-nilai Islam,” papar Malik.

Menurutnya, inti persaudaraan yang Islami adalah yang mengedepankan nurani dan lebih produktif, lebih mengayomi keutuhan bangsa kita yang majemuk, daripada ukhuwah diniyah yang jahiliyah. “Ukhuwah diniyah yang jahiliyah itu, adalah persaudaran orang-orang seagama, tapi spiritnya tidak Islami, misalnya persaudaran untuk melakukan teror bom yang mengganggu ketentraman dan keamanan bangsa,” katanya. [http://www.republika.co.id]

Keterangan foto: Dari kiri, Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua MUI Umar Shihab, Anggota DPD AM Fatwa, dan Ketua Umum LDII Abdullah Syam dalam acara silahturahim dan halal bihalal Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di kantor LDII, Jakarta (Kamis 7/10) malam. [http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=5879]

Kamis, Agustus 25, 2011 by Mas Javas · 1

Pesan Lebaran Idul Fitri 1432 H

..wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun...dan dari sebagian apa – apa yang Allah berikan kepada mereka (yaitu berupa rejeki) mereka menginfaqkan…(QS a-Baqoroh 3).

Rasanya banyak orang yang tahu ayat itu. Bahkan banyak yang hafal. Luar dalam. Baik arti maupun makna keterangannya. Minimalnya pernah mendengar. Kalau tidak luping, malahan sering kali mendengarnya. Sayang, banyak orang yang belum memahami secara benar dan mendalam ayat yang nyempil itu. Kenapa nyempil? Karena ia ada diujung ayat, dari bagian ayat lain yang panjang, sehingga jarang terperhatikan. Padahal memahami ayat ini menjadikan hidup begitu bermakna. Lega seluas angkasa. Dan sejuk sedalam samudra. Hati nyegoro dan nafas bebas. Pintu menuju kebahagian dan kesusksesan hidup. Kenyataannya, banyak orang yang masih ‘tersiksa’ dengan apa yang disebut memberi atau berbagi. Banyak orang yang masih memiliki internal conflict-pertentangan pribadi, dalam masalah yang satu ini. Tanpa disadari, banyak orang yang masih terpenjara dalam masalah berbagi ini. Walau berulang kali melakukannya, belum menemukan keindahan di dalamnya. Yang ada hanya beban, beban dan beban. Yang terus mendera setiap saat. Belum merasa lepas. Belum merasa puas, ketika kudu melakoni ayat ini. Ada rasa owel, berat hati. Bahkan keluar uneg–uneg, ngedumel, akibat beban ini. Dan boleh dikata, masih banyak orang yang belum merdeka karenanya.

Sebenarnya kita bisa belajar dalam memahami dan memaknai ayat di atas dari kegiatan setiap Idul Fitri. Tengoklah, orang tanpa sungkan dan ragu untuk bersiap menyambut hari raya. Segala makanan disiapkan. Segala jajanan ditampilkan. Seakan tak kenal lelah dan tak kenal ampun. Satu kata yang jadi pegangan: harus ada. Dan di beberapa tempat, bahkan ada tradisi berbagi angpau buat anak – anak kecil. Saya tidak mengerti kenapa banyak orang begitu royal saat hari raya. Tetapi setelah itu, seolah hilang di telan bumi. Kedermawanan hanya tampak dalam sehari saja. Nah, di sela – sela safari kami inilah mengemuka masalah berbagi ini. Artinya permasalahan yang memang dihadapi dalam keseharian pasca maupun pra hari raya, yaitu beratnya berbagi - khususnya terkait masalah infaq. Dari orang – orang dekat disekitar kami sendiri. Namun saya yakin, hal ini juga terjadi di luar sana. Sebab beberapa surat elektronik yang masuk ke box saya, juga menanyakan hal serupa.

Kenapa sih kita mesti berat berbagi? Untuk apa sih membuat susah hidup ini dengan masalah yang satu ini? Itulah kesimpulan akhir saya dari berbagai keluhan dan masukan yang sampai ke saya. Pertama dan yang utama dalam menjawab permasalahan seperti ini adalah kembali pada pemahaman dasar dalam beribadah. Sering kita diberi nasehat, diingatkan bahwa kita beribadah itu modal dengkul. Kita lahir nggak bawa apa – apa dan mati nggak bawa apa – apa. Semua harta adalah pinjaman dari Allah selama kita hidup, sebagai bekal ibadah. Dan Allah akan menukarkan itu semua dengan surgaNya.

Lihatlah kembali firman Allah yang menyentuh berikut ini.
“Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (Ali Imron 26 – 27)

Allah berfirman; “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…” (at – Taubah : 111)

Dengan demikian, konsekuensi logis dari pemahaman modal dengkul seperti ini seharusnya menjadikan kita ringan tangan untuk berbagi. Mari cermati pemahaman Abu Bakar yang menshodaqohkan seluruh hartanya ke Sabilillah. Rasulullah SAW pun tidak melarang. Karena yakin bahwa harta punya Allah dan ia pasrahkan semua kepada Allah. Atau petunjuk Nabi SAW agar menshodaqohkan 1/3 hartanya ke Sabilillah itu sudah cukup banyak. Atau sahabat yang menshodaqohkan kebun terbaiknya di tanah Bairuha sebagai kecintaan dan pemahaman dalam meraih surga tertinggi dengan konsep modal dengkul ini. Boleh terang-terangan maupun samar.

Kedua, kunci dalam pemahaman ayat di atas adalah Firman Allah dalam Surat at-Taghobun ayat 14, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Orang sering melupakan ayat ini dan lebih senang berkeluh kesah. Orang lebih suka melampiaskan permasalahan ini dengan cara yang kurang pas. Tentu kita masih ingat cerita sahabat yang hanya bisa sodaqoh sedikit dan dihina orang–orang munafiq seperti diterangkan dalam surat at-Taubah. Prinsip mastatho’na harus disertakan dan dikedepankan di sini agar semua terpelihara dengan baik tanpa merusak, baik diri sendiri maupun system yang ada. Maka bagi orang – orang yang sadar, dengan memiliki pemahaman yang baik, mau infaq banyak, mau infak sedikit tak ada masalah. Mau ditentukan, mau bebas tak ada halangan. Semua ada contohnya, tinggal bagaimana kita memahami dan menerapkannya. Jangan sampai kalah dengan si Burung Merak WS Rendra, yang mengejawantahkan harta benda dunia ini dengan begitu bersahajanya lewat puisinya Makna Sebuah Titipan.

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya
Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”


Namun buru – buru setiap kali saya memberikan wejangan, saya ingatkan untuk papan–empan-adepan. Jangan bicara seperti ini di tempat dan waktu yang salah. Tapi siapa tahu waktu dan tempat yang salah? Ah itu, tak penting, yang jelas; buat apa pelit, wong harta itu “hakikinya” bukan harta kita.

Oleh: Ustadz.Faizunal Abdillah

by Mas Javas · 1