Kamis, Oktober 01, 2009
"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris... pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya haalannya banyaaak... sekali!"
Ya memang Fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau Fani pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya, "Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja". Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, Fani memang biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar. Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siap yang mulai?" Adiknya saling tunjuk."Hayo, jujur ...Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling memaafkan".
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya! "Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..." Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Sahabat, betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar di sekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu, tidak biasa bergaul, bahkan tidak pernah mau belajar shalat.
Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya menjawab "Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja, rajin shalat. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Meski secara scholastik Fani biasa-biasa saja, ternyata sang anak telah menjadi penyejuk mata dan hati.
Semoga kita tidak terjebak pada kebanggaan terhadap anak-anak yang pintar secara scholastik
seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik, dan olahraga (kinestetik) saja. Dan kita juga tidak rendah diri dengan anak-anak kita yang tampak biasa-biasa saja. "Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang shaleh dan shalehah, yang cerdas dan kuat, yang menjadi penyejuk hati mata dan hati kami."
--------------------------
(Diambil dari tulisan L. Fini R.A, kiriman Sdri. Elinda)
Kamis, Oktober 01, 2009 by Mas Javas · 0
Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. Cittt....ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram dan bersumpah serapah, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. "Kurang ajar!!". Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
"Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!! Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
"Kamu tahu nggak, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores." Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa."
Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. "Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti...."
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. "Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku."
Pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu dan dioleskannya Betadine. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu BMW kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih. "Terima kasih, dan semoga Allah akan membalas perbuatan Tuan." Begitu katanya...
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju BMW miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja dilewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: "Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."
***
Sahabat, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, apakah kita memacu hidup kita dengan cepat... mengejar karir dan harta, pergi jam 6 pulang jam 11 malam, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar? Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas di sekitar kita.
Sebagai orang yg terpelajar & dikaruniai kelebihan, mungkin kita ingin serba cepat belajar, bergelar, dan menjadi maju. Celaan pun kita lontarkan untuk mereka yang malas dan bodoh. Sebagai orang yg sukses berkarir, mungkin kita akan terus haus dengan jabatan dan mengejar kekayaan. Cibiran pun kita sandangkan pada mereka yang tidak sekaya dan seperlente kita. Sebagai orang yg dikaruniai hidayah, mungkin kita juga rajin sholat dan beramal .. tanpa mengajak mereka yang kita anggap awam, tidak taat beragama, dan ahli maksiat. Namun, apakah kita ingin pintar, ingin maju, ingin kaya, ingin masuk surga .. sendirian saja??
Sahabat, kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata -Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.
by Mas Javas · 0
Ternyata, ketangguhan hanya dapat dilihat tatkala seseorang mengarungi medan
ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya. Kita
akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mendidik anak-anaknya di tengah
kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani
mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak.
Kita pun akan salut kepada satu bangsa yang walau tidak punya sumber daya alam,
tapi mereka bisa bangkit dan maju. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang
memiliki ketangguhan dalam hidup.
Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia yang tangguh atau rapuh? Masalahnya,
di balik orang yang tangguh, ada banyak orang yang rapuh. Dihadapkan dengan
sedikit kesusahan mereka goyah dan mengeluh. Dihadapkan dengan masalah yang
menghadang dia putus asa. Dihadapkan dengan ketidakenakan dia tersinggung, lalu
marah. Bahkan, dengan masalah sepele saja mereka akan menyerah. Lihatlah, hanya
karena tidak bisa mengerjakan PR, ia membanting pintu dan menyobek kertas. Hanya
karena tidak bisa memasang peniti, susah masuk, ia marah-marah dan membanting
peniti tersebut. Hanya karena putus cinta, ia bunuh
diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia sakit hati.
Beberapa hari lalu saya menonton acara televisi tentang kontes ketahanan fisik,
untuk memilih manusia 'terkuat' di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari
puluhan kilometer, menaiki bukit, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan
lumpur, dan lainnya. Dalam perlombaan tersebut, terlihat ada orang yang
semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya
kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan
fisiknya sama-sama kuat. Yang terakhir inilah yang kemudian keluar sebagai
pemenang. Ternyata, ketangguhan hanya dapat dilihat tatkala seseorang mengarungi
medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.
Analogi dengan kenyataan tersebut, hidup hakikatnya adalah medan kesulitan
sekaligus medan ujian. Separuh dari hidup kita adalah medan ujian yang berat.
Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu
melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Alquran, Allah SWT berjanji akan
membahagiakan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam mengarungi kesulitan
hidup. "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu
mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami
adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali" (QS Al-Baqarah:
155-156).
Ketangguhan yang hakiki bagi seorang Muslim tidak dilihat dari fisiknya (walau
ini penting), tapi dilihat dari seberapa kuat keimananya. Manusia paling tangguh
adalah manusia yang paling kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh,
bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik
akan tertutupi. Orang yang memiliki kekuatan iman, salah satu ciri khasnya
adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Dalam praktiknya, ia memiliki lima
rumus. Pertama, ia yakin bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Ia
akan menghadapinya sepenuh hati, tidak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua,
ia yakin bahwa setiap kesulitan sudah diukur oleh Allah, sehingga takarannya
pasti sesuai dengan kapasitas manusia. Ketiga, ia yakin bahwa ada banyak hikmah
di balik kesulitan. Keempat, ia yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Dan
terakhir, ia yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan
mengangkat derajatnya di hadapan Allah (juga manusia). Pasti ada sesuatu yang
besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar
biasa pula ganjaran yang akan diterima.
Karena itu, sesulit apapun keadaan bangsa kita, sesulit apapun keadaan keluarga
dan diri kita, pilihan terbaik hanya satu: 'Kita harus menjadi manusia tangguh.'
Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada
ujungnya. Tidak mungkin kesulitan akan terus menerus mendera kita. Bukankah di
balik setiap kesulitan ada dua kemudahan? Wallahu a'lam bish-shawab.
--------------------------
(Diambil dari Khasanah Aa Gym, www.republika.co.id)
by Mas Javas · 0
Mengelola rumah tangga tak ubahnya seperti mengolah masakan. Perlu kesungguhan, kesabaran, serta cukup bumbu dan garam. Satu lagi yang tak boleh ketinggalan: ketelitian. Sebab garam saja, masakan jadi tak punya rasa. Atau sebaliknya, kelewat terasa. Dan dua-duanya sangat mengurangi selera.
Bersatunya dua anak manusia dengan latar belakang berbeda memang punya seribu satu cerita. Ada yang indah dan enak dikenang. Tapi tak sedikit yang bikin mulut jadi cemberut.
Buat mereka yang biasa menggeluti dunia nyata, akan menganggap itu wajar. Wajar karena tak ada manusia yang sempurna. Ada kelebihan dan tak sedikit kekurangan. Masalahnya, ketika kenyataan hidup itu dipandang dengan kacamata perfectionist atau serba sempurna, tentu akan terjadi kesenjangan.
Lalu, gimana mungkin sebuah bahtera rumah tangga terasa nyaman ketika baut-baut kapal dan sekrupnya mulai berjarak. Walau hal kecil, sekrup dan baut punya peranan penting. Jika tidak segera disadari dan diperbaiki, baut dan sekrup kecil bisa bikin kapal yang besar pecah berantakan.
Benarkah begitu? Pak Wawan punya pengalaman sendiri tentang itu. Enam tahun pernikahan memang tergolong rentang perjalanan pendek buat siapa pun, termasuk Pak Wawan. Karena pernikahan sejati tidak pernah berujung. Buat seumur hidup di dunia. Dan akan berlanjut pada kehidupan lain di akhirat.
Namun, enam tahun itu saja, sudah banyak warna yang ia serap. Ada warna miskomunikasi. Ada cemburu. Masalah keuangan. Dan satu lagi, soal ketidakpuasan.
Dari empat warna itu, ketidakpuasan bisa diurutkan sebagai rangking teratas. Tapi, stadium ketidakpuasan buat Pak Wawan bukan tergolong tingkat berat. Cuma masalah pernik-pernik pergaulan berumah tangga. Ringan. Soal kebersihan rumah, tata ruang, pola asuh anak, dan bumbu masakan. Cuma itu, tak ada yang lain. Justru, yang terasa ringan itu kalau terus-menerus terasa bisa menjadi petaka.
Awalnya, semua terasa dari satu arah. Ego Pak Wawan selalu mengatakan kalau isterinya banyak kekurangan. Agak bergeser di luar target yang pernah dipasang bapak tiga anak ini sebelum memasuki jenjang pernikahan. Saat itu ia heran, kemudian akhirnya kecewa.
Pernah beberapa kali ia mendapati anak-anaknya yang masih balita belum mandi sore. Padahal, ia tiba di rumah sudah menjelang waktu Isya. Pak Wawan pernah juga mencium bau ompol dari tempat tidur anak-anak. Satu hari mulai terasa, dua hari kian terasa. Bagaimana mungkin anak-anak bisa tidur pulas dengan aroma kayak gitu. Pak Wawan mulai geleng-geleng kepala.
Di lain kesempatan, Pak Wawan sempat menahan rasa. Waktu itu saat sarapan. Sudah menjadi kebiasaan sejak masa lajang, Pak Wawan selalu sarapan sebelum keluar rumah. Secara teori gizi, makanan saat sarapan sangat menentukan produktivitas seseorang. Kalau sarapan ala kadarnya, hasil kerja pun bisa tak seberapa. Keyakinan itulah yang dipegang Wawan.
Ketika sarapan itu, Pak Wawan merasa ada yang aneh dengan masakan isterinya. Rasanya itu lho: asiiin luar biasa. Apa nggak dirasai dulu. Kok, ceroboh sekali. Masih banyak umpatan yang disimpan Pak Wawan. Dengan sangat terpaksa, teorinya tentang sarapan mesti dikecualikan. Hari itu, ia berangkat tanpa sarapan. Kecuali, secangkir teh manis hangat.
Tak ada marah memang. Hanya ungkapan kesal dengan tampilan wajah cemberut yang diperlihatkan Pak Wawan. Tapi, buat isteri Pak Wawan, itu saja sudah cukup buat ungkapan protes. Setelah itu, biasanya ia menangis. Entah pikiran apa yang berkecamuk. Sepertinya, ada protes melawan protes. Untuk beberapa hari, biasanya Pak Wawan dan isteri tak saling sapa.
Apa yang salah. Pak Wawan sempat terkurung dalam kebingungan selama beberapa bulan. Sungguh waktu yang lumayan lama buat masalah yang terkesan sepele.
Awalnya, Pak Wawan selalu menganggap isterinya salah. Lebih dari itu, sempat terbersit sebuah penyesalan. Tapi, itu hanya terlintas beberapa detik. Kemudian tergerus dengan sebuah kesadaran. Bahwa, sudut pandang masalah bisa ditakar dari dua arah. Tidak satu seperti yang selama ini terjadi.
Boleh jadi, yang justru bermasalah adalah Pak Wawan sendiri. Lho? Itulah yang kini ia rasakan. Ia mencoba melihat ke belakang. Sebelum ini, Pak Wawan memang tergolong orang yang selalu menakar sesuatu dengan ukuran sempurna. Itulah yang ia dapatkan dari orang tuanya. Selalu terbaik, dan menghasilkan yang terbaik. Rapi, teratur, dan tanpa cacat adalah doktrin yang selalu ia terima. Tak heran, jika mengalir sesuatu dalam bingkai pemikiran Pak Wawan: harus selalu sempurna.
Mungkin, hal itulah yang selama ini membuat Pak Wawan agak tersingkir dari pergaulan. Ia selalu bikin kikuk teman-temannya. Mereka seperti mengambil jarak. Khawatir, kalau-kalau terlalu rendah di mata Pak Wawan.
Lalu, seperti itukah yang kini terjadi dalam rumah tangga Pak Wawan. Sebuah kesenjangan antara idealita dengan realita. Bahkan, bisa dibilang pertarungan. Kalau itu yang terjadi, keseimbangan sulit terjadi. Dan keharmonisan cuma jadi cita-cita.
Bagaimana mungkin ada pertemuan dua ujung yang saling bertolak belakang. Harus ada penyesuaian. Itu secara teoritis. Kenyataannya, Pak Wawan agak lalai dengan keadaan rumah tangganya. Ia lupa kalau seorang isteri adalah wanita yang punya tenaga terbatas. Bagaimana mungkin bisa sempurna dengan sarana yang serba tidak sempurna. Sulit mengurus tiga balita tanpa pembantu rumah tangga. Dan soal masak, memang masih barang baru buat isteri Pak Wawan yang semasa lajang terlalu aktif di luar rumah. Wajar kalau sempat terjadi kurang garam.
Jadi, kini terpulang pada Pak Wawan. Seperti apa takaran yang ia tentukan. Salah-salah, masakan hidup berumah tangga menjadi bukan sekadar kurang garam. Tapi, tak bisa dicicipi sama sekali karena tidak pernah matang.
(muhammadnuh@eramuslim.com)
by Mas Javas · 0
Stasiun Pasar Minggu, 07.10 WIB. Seperti biasa kereta Jakarta-Bogor yang saya tumpangi berhenti di peron jalur dua. Segera setelah itu hiruk pikuk mewarnai suasana, ada yang naik ada yang turun...
Tiba-tiba, seisi gerbong dibuat takjub dengan pemandangan luar biasa yang kami saksikan pagi itu. Bahkan Bapak yang jadi menawarkan bangku disampingnya pada saya, sampai harus memutar kepalanya demi melihat peristiwa itu lebih jelas. Demikian juga halnya dengan orang-orang yang ada di luar.
Ya, kami semua terpukau dengan munculnya sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang anak perempuan berjalan saling berbimbingan tangan menyusuri pinggir peron. Mereka semua buta, kecuali anak perempuannya yang masih kecil (kira-kira 7 th.) Sang ayah berjalan memimpin di depan dengan tongkatnya. Ia berkopiah hitam, berkoko putih serta menyandang tas yang ia selempangkan dipundaknya. Si Ibu bergamis lebar warna ungu lengkap dengan jilbab. Sedangkan si anak, berpakaian batik seragam TPA dengan tas ransel di punggung.
Wajahnya bersih dan sangat ceria di balik jilbab putih mungilnya. Kedua tangannya memegang erat-erat tangan Ayah dan Ibunya, dan kelihatan sekali ia berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah kedua orangtuanya. Padahal kalau mau, bisa saja ia bebas berjalan sekehendak kakinya. Karena ia satu-satunya yang dapat melihat. Namun sikapnya nyaris mirip seperti orang buta juga jika kita tidak memperhatikan wajahnya. Tapi, anak itu rela berjalan dibawah bimbingan Ayahnya yang terbata-bata menyusuri peron.
Orang-orang ada geleng-geleng kepala, ada yang berdecak kagum entah pada ayahnya, anak atau Ibunya, ada juga yang hanya melihat dalam diam. Tak ada yang berkata-kata atau kasak-kusuk karena apa yang kami lihat mugkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sampai kereta berjalan, pandangan mata kami semua seperti tak ingin lepas dari mereka. Entah apa yang kami rasakan. Mungkin seperti setetes embun pagi yang menyentuh kulit. Tapi ini bukan embun sebenarnya, tetapi kesejukkan terasa sampai ke dalam hati.
Banyak yang dapat saya peroleh dari pemandangan itu. Yang pertama tentu Kebesaran Allah. Siapa yang sanggup menyatukan dua manusia buta menjadi satu keluarga kalau bukan Ia. Dan si anak kecil yang lucu dan menyenangkan itu , tapi tak dapat dilihat oleh orang tuanya, adalah Rahmat bagi mereka. Keikhlasan sang Ayah dan Ibu tentu akan melahirkan anak yang juga memiliki keikhlasan yang sama. Siapa sih yang ingin dilahirkan dari sepasang orang tua yang buta. Yang jangankan mengajarkan tentang ini dan itu dalam kehidupan baru kita, karena melihat saja mereka tak bisa.
Terbayangkah dibenak kita, masa kecil yang penuh dengan rasa ingin tahu dan orang yang paling dekat dengan kita tak bisa dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kita?
"Ayah itu hewan apa?" atau "Ibu kalau ini apa?" atau .... Terus terang saya kagum dengan anak itu (mugkin karena saya juga anak). Fitrahnya yang masih bersih tercermin dari perilakunya . Saya juga kagum dengan sang Ayah, karena ia dengan segala keterbatasannya tetap menjadi pemimpin. Dan saya juga kagum dengan Ibu, karena ia berhasil membesarkan anak menjadi seperti itu juga dalam keterbatasannya.
Saya pikir, hati mereka terbuat dari 'bahan baku' yang tidak sama dengan hati yang dimiliki orang kebanyakan yang normal. Karena kita yang masih dikaruniai kesempurnaan mata masih sering kali mengeluh dan kurang ikhlas dengan apa yang Allah beri.
--------------------------
(Diambil dari tulisan Siswati, milis DKM AN-Nahl)
by Mas Javas · 0
Bagaimana perasaan Anda ketika akan kedatangan tamu yang menginap di rumah untuk beberapa saat? Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru, temen dekat atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta.
Demikian halnya saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya? Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?
Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Bila jawabannya ternyata belum, kita Insya Allah masih punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya... insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.
Ada 4 golongan manusia dalam sikapnya menyambut Ramadhan. Pertama: mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka menganggap bulan ini sebagai peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur'an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya, dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat. Kedua: orang yang niatnya baik, tapi azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka makin tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya. Ketiga: orang yang biasa-biasa saja. Kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin. Keempat: orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya dan tidak menghormati sama sekali. Mereka menentang penutupan sementara usaha hiburan malam dan bisnis esek-esek dengan alasan ekonomi dan hak asasi.
Di golongan mana kita berada? Jangan sampai kita merugi sebagaimana sabda Rasulullah, "Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni". Para sahabat Rasul paham akan berharganya Ramadhan sehingga berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita siapkan semua semua sumber daya, baik fisik, finansial, dan ilmu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini sebelum kita menyesal!
--------------------------
(Diambil dari artikel kiriman sdr. Oki)
by Mas Javas · 0
”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda.
“Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.
”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?”
”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”
”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.
”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan.
Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.
”Anda siapa?” tanya pemuda.
”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.”
”Ohh… lalu ini istana siapa?”
”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.”
”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?”
”Betul!”
”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?”
”Betul sekali.”
Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.
“Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan.
”Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.”
”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?”
”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”
”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak...
by Mas Javas · 1